Indonesian English
Home » Tentang Shorinji Kempo
Kamis, 28 Mei 2015

Sejarah Shorinji Kempo

 

Menurut tradisi, yang membawa teknik-teknik bertarung (kempo India, tenjiku nara no kaku, atau ekkin gyo) adalah Boddhidharma (leluhur Zen) ke Cina 1500 tahun yang lalu setelah ia meninggalkan India untuk menyalurkan pengajaran sejarah Buddha yang benar dan mengakhiri perjalanannya di Kuil Shaolin Songshan yang kini dikenal sebagai Propinsi Hainan. Kemudian, teknik-teknik ini melahirkan beragam seni bela diri yang tersebar ke seluruh daratan Cina.

Pada tahun 1928, Kaiso melakukan perjalanan ke Cina dengan tujuan yang kuat, dan ia mempelajari teknik-teknik esoterik dari berbagai guru yang ia temui sehubungan dengan ”pekerjaannya yang tidak biasa”.

Pada bulan Agustus 1945, Jepang dikalahkan dalam perang, dan ditengah kegalauan pasca perang, Kaiso menyaksikan sisi buruk yang dilakukan oleh tindakan manusia. Pengalaman dahsyat ini membuatnya memutuskan untuk membenahi negaranya dengan membangkitkan semangat masyarakatnya, dan pada musim panas tahun 1946, Ia kembali ke Jepang yang kalah perang.

Pada bulan Oktober 1947, di kampung halamannya di Tadotsu, Daerah Kagawa, Kaiso mengatur dan menyusun teknik-teknik yang ia pelajari selama berada di Cina, yang ditambah dengan sentuhan kreatifnya sendiri, dan — dengan menamakan sistem tersebut Shorinji Kempo — mulai mengajarkan. Tahun berikutnya, Kaiso secara bersamaan membentuk Nippon Hoppa Shorinji Kempo Kai dan Komanji Kyodan, dan pada bulan Desember 1951, a membentuk Kongo Zen Sohonzan Shorinji. Pada tahun 1956, Kaiso membentuk Nihon Shorinji Bugei Semmon Gakko (Akademi Budo Shorinji Jepang), dan pada tahun 1957, Zen Nihon Shorinji Kempo Remmei (Federasi Shorinji Kempo Jepang). Kemudian, pada tahun 1963, ia membentuk organisasi Shadan Hojin Nihon Shorinji Kempo Remmei (Yayasan Federasi Shorinji Kempo Jepang), yang secara khusus menerapkan usaha untuk pelatihan bagi orang-orang muda.

Pada tahun 1980, Kaiso setelah menghabiskan 33 tahun sejak menciptakan Shorinji Kempo mengajak sejumlah besar anak-anak muda untuk menguatkan tubuh dan pikiran melalui pendekatan ken zen ichinyo dalam latihan. Namun, pada tangga 12 Mei 1980, Kaiso meninggal dunia karena serangan jantung. Kini, berkat Shike Doshin So II, Yuuki So yang mengemban misi Kaiso, Shorinji Kempo tetap berkembang.


Kaiso memperhatikan bahwa dalam semua ilmu bela diri yang telah dipelajarinya, ada tiga unsur gerakan mendasar — gerakan berputar, lurus dan melambung — dan berdasarkan penggabungan unsur-unsur inii ada 10 metode; metode halus (ju ho): yakni menunduk, melempar, memutar, menekan, mencekik dan membungkuk; serta metode keras (go ho) memukul, menyerang, menendang dan memotong. Kemudian ia menganalisa dan menyusun gerakan ini dengan prinsip fisik dan fisiologi. Kaiso bermaksud membuat metoda untuk melatih tubuh dan pikiran secara bersamaan sebagai inti bela diri. Latihan fisik, pendidikan jasmani, dan selanjutnya membantu menyempurnakan karakter  seseorang. Oleh  karenanya,  ia  menggunakan  peraturan latihan yang mudah yang dilukiskan pada dinding byaku-eden di Kuil Shaolin dan menyusunnya kembali ke dalam bentuk yang sesuai dengan masanya. Kemudian ditambah pengalaman bertempur yang berharga yang diperolehnya selama masa perang, memasukkan elemen ciptaannya sendiri, dan terbentuklah Shorinji Kempo.

Nama Shorinji Kempo timbul dari kenyataan bahwa suhu Kaiso, Tai Zong Wen,  biarawan Kuil Shaolin, menyalurkan warisan Giwamon ken kepada Kaiso di Kuil Shaolin. Kaiso ingin melanjutkan nama Shorinji dan kaitan-kaitannya dengan suhu penemu Zen- Boddhidharma serta menghormati pembentukan kembali latihan teknik bela diri sebagai gyo.

Sejak zaman dahulu di Cina dan Jepang, seni bela diri yang mekar di Kuil Shaolin Songshan di Propinsi Hainan Cina telah dikenal sebagai seni bela diri Shaolin (shorin bujutsu), diantara gaya-gaya tanpa senjata ini dikenal sebagai Pukulan Shaolin (shorin ken) atau Seni Pukulan Shaolin (shorin Kenjutsu).

Sebaliknya, ”Shorinji Kempo” merupakan versi bela diri baru sejak pasca perang Jepang. Ia dibentuk oleh Kaiso berdasarkan teknik-teknik yang ia pelajari pada masa mudanya, kemudian disusun kembali sesuai dengan masa sekarang dan dikembangkan dengan unsur-unsur ciptaannya sendiri.

honbu

honbu

honbu


Lihat Honbu di peta yang lebih besar

> Shorinji Kempo Group
Ada empat organisasi yang terkait dengan Shorinji Kempo: Federasi Shorinji Kempo, Kongo Zen Sohonzan Shorinji, Sekolah Zenrin Gakuen dan Organisasi Shorinji Kempo Dunia (WSKO). Berdasarkan kesepakatan, organisasi-organisasi Shorinji Kempo ini membentuk Shorinji Kempo Group dan menunjuk Yuuki So (Shike Shorinji Kempo, Doshin So II) sebagai Ketua. Maksud Shorinji Kempo Group adalah untuk menjamin bahwa pengajaran dan teknik-teknik yang dibentuk  oleh Kaiso Doshin So tetap diturunkan dan dikembangkan dengan benar pada abad 21. Oleh karenanya, Shorinji Kempo bertujuan agar setiap organisasi benar-benar menjaga karakteristik-kekhususanya, serta menjaga kerja sama yang baik, menyebarkan ajaran, mengembangkan kegiatan pendidikan dan menyumbangkan kepada masyarakat melalui pembentukan manusia yang dibutuhkan masyarakat.

> Pengembangan Organisasi
Pada lahun 1947, ketika Jepang berada dibawah Kekuasaan Tentara Sekutu setelah kekalahannya, Kaiso mendriikan Shorinji Kempo dengan misi ”membangun kembali” negara dengan menyadarkan penduduknya. Tahun berikutnya, ia membentuk Nippon Hoppa Shorinji Kempo Kai. Pada waktu yang sama, Kaiso memperoleh pengesahan untuk membentuk organisasi keagamaan yang disebut Komanji Kyodan, suatu nama yang terinspirasi dari masyarakat penderma (Hong Wan Kai atau Masyarakat Manji Merah) yang ia temui selama berada di Cina. Kemudian, pada bulan Desember 1951, ketika terbit Undang-undang Baru bagi Badan Keagamaan (Shin Shukyo Hojin Ho), maka organisasi ini menjadi Kongo Zen Sohonzan Shorinji. Pada saat itu kebanyakan anggota baru adalah karyawan Departemen Mesin Industri Kereta Api Nasional Jepang (kini Perusahaan Angkutan Kereta Api Jepang), anggota Pasukan Polisi Zentsuji (kini Tentara Pertahanan), dan pelajar-pelajar di sekolah menengah umum terdekat. Tidak lama kemudian — orang-orang ini mendapat pekerjaan, dialihkan atau memasuki perguruan tinggi — Shorinji Kempo tersebar di seluruh negeri.

Pada bulan April 1956, Nihon Shorinji Bugei Semmon Gakko Shorinji Kempo menerima sertifikat sebagai lembaga pendidikan latihan kepemimpinan Shorinji Kempo. Dua tahun kemudian, sekolah tersebut mengubah namanya menjadi Nihon Shorinji Budo Semmon Gakko (Akademi Budo Shorinji Jepang), dan dengan berjalannya waktu, sekolah tersebut membentuk kursus budo penuh waktu dan berbagai kursus tambahan (Bekka) di daerah regional diseluruh negeri, melakukan usaha keras dalam mendidik pemimpin-pemimpin Shorinji Kempo. Pada bulan April 2002, Shorinji Kempo membuka kursus tingkat sekolah menengah umum untuk mengembangkan tercapainya secara praktis pendidikan Shorinji, dan pada bulan April 2003, Shorinji Kempo membentuk kurikulum Manajemen Kreatif bersamaan dengan program tekniknya; nama sekolah tersebut berubah untuk menunjukkan hal ini, menjadi Semmon Gakko Zenrin Gakuen (Sekolah Tinggi Gakuen Zenrin).

Saat Shorinji Kempo berkembang di kampus-kampus dan tempat kerja, pada bulan Mei 1957, Zen Nihon Shorinji Kempo Remmei (Federasi Shorinji Kempo seluruh Jepang) dibentuk sebagai organisasi bebas, karena untuk mendapat pengakuan sebagai masyarakat bersamaan dengan pertumbuhannya yang cepat dan menyeluruh, badan umum Shadan Hojin Nihon Shorinji Kempo Remmei (Badan Hukum Usaha Federasi Shorinji Kempo Jepang) dibentuk secara hukum pada bulan Oktober 1963, dan Zen Nihon Shorinji Kempo Remmei kemudian dibubarkan. Setelah berkembang lagi lebih kuat sebagai organisasi nasional pada bulan Januari 1992, organisasi tersebut menjadi Zaidan Hojin Shorinji Kempo Remmei (Yayasan Federasi Shorinji Kempo), dengan persetujuan Menteri Pendidikan.

Bahkan pada bulan April 1977, Federasi Shorinji Kempo bergabung dalam Federasi Judo Jepang, Federasi Kendo Jepang, Federasi Kyudo Jepang, Federasi Sumo Jepang, Federasi  Karatedo  Jepang,  Federasi Aikikai, Federasi Nagina-ta Jepang, Federasi Gabungan Jukendo Jepang dan Nippon Budokan dalam membentuk Zaidan Hojin Nihon Taiiku Kyokai (Yayasan Pendidikan Fisik Jepang) yang memiliki sepuluh anggota. Pada bulan Agustus 1990, Shorinji Kempo bergabung dengan Nihon Budo Kyogikai (Dewan Pendidikan Budo (bela diri) Jepang).

Pada bulan Januari 1972, delapan negara — Amerika Serikat, Brazil, Indonesia, Malaysia, Swedia, Filipina, Iran dan Jepang — membentuk Federasi Shorinji Kempo Internasional (ISKF). Pada tahun 1974, meningkat menjadi enam belas negara dan telah berkembang  dan dikembangkan dengan dibentuknya Wotrld Shorinji Kempo Organization (WSKO).

Sensei Indra KartasasmitaSejak akhir tahun 1959, pemerintah Jepang menerima mahasiwa dan pemuda Indonesia untuk belajar dan latihan sebagai salah satu bentuk pembayaran pampasan perang. Sejak itu secara bergelombang dari tahun ke tahun sampai tahun 1965, ratusan mahasiswa dan pemuda Indonesia mendapat kesempatan belajar di Jepang. Tidak sedikit diantara mereka itu memanfaatkan waktu senggang dan liburannya untuk belajar serta memperdalam seni beladiri seperti Karate, Judo, Ju Jit Su dan juga Shorinji Kempo.

Sepulangnya di tanah air, mereka bukan saja menggondol ijazah sesuai dengan bidang studinya tetapi juga memperoleh tambahan berupa penguasaan seni bela diri seperti tersebut diatas. Pada tahun 1964, dalam suatu acara kesenian yang dipertunjukkan mahasiswa Indonesia untuk menyambut tamu-tamu dari tanah airnya, seorang pemuda yang bernama UTIN SAHRAS mendemonstrasikan kebolehannya bermain Kempo. Ia datang di Jepang pada tahun 1960 dan tinggal di Tokyo sebagai Trainee Pampasan.

Apa yang didemonstrasikannya itu menarik minat pemuda dan mahasiswa Indonesia lainnya, diantaranya Indra Kartasasmita dan Ginanjar Kartasasmita serta beberapa orang lainnya. Mereka lalu datang ke pusat Shorinji Kempo di kota Tadotsu untuk menimba langsung seni bela diri itu dari Sihangnya.

sensei utin sahrazUntuk meneruskan warisan seni bela diri itu seperti apa yang mereka peroleh di Jepang, ketiga pemuda itu, yaitu Utin Syahraz (almarhum), Indra Kartasasmita dan Ginanjar Kartasasmita, bertekad melahirkan dan membentuk suatu wadah yang bernama PERKEMI (Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia), dan resmi dibentuk pada tanggal 2 Februari 1966. Kini PERKEMI telah melahirkan jutaan kenshi yang tersebar diseluruh Indonesia. Selain itu merupakan salah satu organisasi induk yang bernaung di bawah KONI Pusat, PERKEMI juga menjadi anggota penuh dari Federasi Kempo se-Dunia atau WOSKO (World Shorinji Kempo Organization), yang berpusat di kuil Shorinji Kempo di kota Tadotsu, Jepang.

Sensei Ginanjar Kartasasmita

Sejak tahun 1966 sampai tahun 1976, PB. PERKEMI mengadakan pemilihan pengurus setiap dua tahun sekali. Tapi sejak tahun 1976 sampai sekarang masa bakti pengurus berlangsung selama empat tahun. Sejak didirikannya pada tanggal 2 Februari 1966, PB. PERKEMI telah banyak melakukan kegiatan yang sifatnya lokal, nasional dan internasional. Tahun 1970 telah diselenggarakan Kejuaraan Nasional Kempo yang pertama di Jakarta, dan sampai sekarang masih terus berlanjut. Begitu juga dengan Kejuaraan antar Perguruan Tinggi, dimana diadakan pertama kalinya pada tahun 1971 yang sampai sekarang berjalan terus setiap dua tahun sekali. Selain itu sejak PON IX/1977 di Jakarta, Kempo termasuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan.

Sensei Indra Kartasasmita

Perkembangan hingga kini, sangat membanggakan dengan dicanangkannya PERKEMI Go International melalui terobosan-terobosan yang penuh dedikasi dan perjuangan yang tak pernah lelah, dimulai sekitar tahun 2003, maka babak baru PERKEMI dengan tampilnya Kempo di ajang SEA GAMES 24 Thailand menunjukkan PERKEMI mampu mendobrak kekakuan Jepang di dalam mengembangkan Kempo pada kegiatan multievent internasional/regional melalui multievent SEA GAMES, dan akan diusahakan terus menapak ke level Asian Games dan bahkan Olimpiade.

1. KEMPO DAN BUDHISME

Seketika orang berkesimpulan bahwa ilmu beladiri Kempo berasal dari dataran Tiongkok. Namun anggapan seperti ini tidaklah semuanya benar. Kira-kira tahun 550 M. Pendeta Budha ke 28 yang bernama Dharma Taishi pindah dari tempat tinggalnya di Baramon (India) ke daratan Tiongkok. Ia menetap disebuah Kuil yang bernama SIAU LIEM SIE atau dikenal kemudian dengan sebutan SHORINJI yang terletak di Provinsi KWAN NAN.

Selama dalam perjalanan dari pengembaraannya, Dharma Taishi juga menyebarkan ajaran agama Budha. Dalam tugasnya ini, tidak sedikit tantangan, ancaman dan hinaan yang dialaminya. Bahkan nyaris merenggut jiwanya. Dari pengalaman-pengalamannya itu timbullah anggapan dalam dirinya, bahwa seseorang calon Bikshu sebaiknya juga melatih diri dengan ketahanan jasmaninya, disamping membersihkan rohaninya untuk mencapai nirwana dengan bersemedi.

Hidup adalah suatu perjuangan! Demikianlah telah menjadi hukum alam. Untuk dapat servive di alam yang fana ini, Tuhan telah mentakdirkan memberikan alat-alat untuk mempertahankan diri kepada makhluk ciptaannya.

Dalam ajaran agama Budha, dikatakan bahwa Hidup itu berasal dari “kosong” atau “tiada”. Namun oleh Dharma Taishi dilengkapinya, bahwa tidak ada gunanya menjadi “kosong” atau “suci”, jika tidak dapat atau tidak bisa membela sesama manusia yang ditimpa kemalangan dan butuh bantuan atau pertolongan kita.

Dharma Taishi yang bergelar Pendeta Budha ke-28 selama di India pernah belajar INDO KEMPO (silat India), dan karena tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pengembaraannya di Tiongkok, kemudian Ia mempelajari pula berbagai aliran silat Tiongkok Kuno. Selama 9 tahun ia bertapa, tekatnya menyusun suatu ilmu untuk mempertahankan diri dan dimaksudkan sebagai syarat dan mata pelajaran bagi calon pendeta Budha.

Sejak saat itu ilmu beladiri yang dikemukakannya telah menjadi bagian dari pendidikan keagamaan pada ZEN BUDHISME. Dharma Taishi tetap beranggapan, bahwa semua pengikutnya haruslah berfisik kuat guna melanjutkan usaha menyebar-luaskan ajaran Budha yang cukup berat tersebut.

Dalam cerita silat klasik Tiongkok, sering dijumpai nama TATMO COWSU. Nama ini tidak lain adalah yang dimaksud adalah Dharma Taishi sendiri, yang menciptakan seni beladiri SHORINJI KEMPO atau SIAW LIEM SIE KUNG-FU.

Seni beladiri ini dilatih secara khusus kepada para calon Biksu didikannya, dan diajarkan secara rahasia dalam KUIL Shorinji. Selain anggota tidak boleh melihat atau masuk ke dalam kuil. Namun keampuhan seni beladiri ciptaannya itu dengan cepat pula menjadi buah bibir masyarakat sekitarnya, bahkan menjalar luas sampai di daratan Tiongkok.

2. FALSAFAH KEMPO

Karena seni beladiri KEMPO waktu itu menjadi sebagian dari latihan bagi para calon Bikshu, dengan sendirinya ilmu tersebut harus mempunyai dasar falsafah yang kuat. Dengan dilandasi ajaran Budha yang dilarang membunuh dan menyakiti, maka pada semua KENSHI (pemain kempo) dilarang untuk menyerang terlebih dahulu sebelum di serang. Hal ini juga menjadi Doktrin Kempo, bahwa “ Peranginlah Dirimu Sebelum Memerangin Orang Lain “.

Cukup lama sejak meletus perang Boxer, nama Shorinji Kempo menghilang. Bahkan di Tiongkok sendiri, ketika kaum KUN CHAN TANG (Partai Komunis Tiongkok) berkuasa, Kempo juga mengalamin kemunduran (Set–back). Gerak / Teknik kempo yang diperbolehkan muncul ketika itu hanyalah yang menyerupai senam belaka (TAI KYO KUEN).

Berdasarkan doktrin tersebut diatas, maka hal ini sangat mempengaruhi susunan teknik beladiri ini, sehingga gerakan-gerakan teknik selalu dimulai dengan mengelak / menangkis serangan dahulu, baru dimulai dengan membalas. Selanjutnya disesuaikan / ditingkatkan menurut kebutuhan, yaitu disesuaikan dengan keadaan serangan lawan. Artinya bila lawan tersebut sedang dalam keadaan khilaf, cukup dengan elakan saja dan seterusnya. Dharma Taishi selalu mengajarkan bahwa disamping dilarang menyerang, juga tidak selalu setiap serangan itu harus dibalas dengan kekerasan.

Demikiianlah ilmu Kempo itu lahirlah apa yang berbentuk mengelak saja, cukup menekukkan bagian-bagian badan lawan, kemudian mengunci dan apabila terpaksa barulah dilakukan serangan penghancuran titik-titik kelemahan lawan, berupa tendangan, sikutan, pukulan dan sebagainya. Bentuk yang pertama dikenal sebagai JUHO dan yang berikutnya dikenal sebagai GOHO. Untuk itu bagi setiap kenshi diharuskan menguasai teknik GOHO (keras) dan JUHO (lunak), artinya tidak dibenarkan apabila hanya mementingkan pukulan, tendangan saja dan melupakan bantingan dan lipatan-lipatan.

3. PERANG BOXER

Shorinji Kempo sendiri mengalami perkembangan pesat di dataran Tiongkok. Pengikutnya kian bertambah banyak, sebab itu Shorinji Kempo kian berpengaruh dalam masyarakat Tiongkok.

Di awal abad XX tahun 1900 – 1901, di Tiongkok meletuslah perlawanan rakyat menentang masuknya Kolonialisme Barat dan banyak pengikut Shorinji Kempo melibatkan diri dalam perlawanan rakyat. Pemberontakan diawal abad XX tersebut akhirnya menjadi suatu pergerakan nasional dan disokong oleh Raru TZE SJI, yang juga ingin membersihkan tanah airnya dari penjajahan bangsa Barat. Dengan mengerahkan bantuan yang besar dan juga mempergunakan peralatan perang mutakhir, pihak Kolonialisme Barat akhirnya mampu mematahkan perlawanan rakyat Tiongkok. Perang tersebut menelan jutaan korban itu, terkenal dengan sebutan “PERANG BOXER” dan oleh Kolonialisme Barat, penggikut-pengikut Dharma Taishi dikejar dan dibunuh, organisasinya dilarang, kuil-kuil Shorinji dirusak dan dibakar. Meskipun masih banyak pengikut Shorinji Kempo dan juga Bikshu-bikshu yang sempat meloloskan diri dari kejaran pasukan penjajah. Kebanyakan dari mereka yang meloloskan diri tersebut masih berusia muda dan belum menguasai seni beladiri yang diwariskan oleh Dharma Taishi tersebut. Dan mereka melarikan diri ke arah Timur dan Selatan dan mengajarkan aliran Shorinji yang mereka kuasai kepada pedagang-pedagang dari Okinawa, Taiwan dan juga Muangthai.

Karena tidak terorganisasinya kesatuan, maka penyebaran Shorinji mulai membentuk seni beladiri baru. Mereka yang melarikan diri ke Muangthai dengan hanya menguasai teknik GOHO (memukul, menendang, dan menangkis), yang mempengaruhi perkembangan seni beladiri yang ada di daerah tersebut. Maka munculah apa yang disebut “THAI BOXING”. Dalam gerakan seni beladiri ini mirip sekali dengan sebagian gerakan-gerakan yang ada di Kempo (silat GOHO-nya). Ajaran Shorinji terutama teknik GOHO juga mempengaruhi seni beladiri yang ada di Okinawa (pulau ujung sebelah Selatan Jepang) dan timbulah seni beladiri yang dinamakan OKINAWATE (kemudian dikenal sebagai KARATE).

Mereka yang melarikan diri di kepulauan Jepang lainnya dan menguasai teknik JUHO (lunak) juga mempengaruhi seni beladiri yang ada daerah-daerah tersebut. Dari JUHO munculah seni beladiri JU-JIT-SHU (JU berarti lembut, lenting dan fleksibel). Juga lahirlah teknik JUHO seni beladiri AIKIDO dan JUDO, maka tidaklah heran walaupun Kempo baru mulai bangkit kembali setelah Perang Dunia II, setelah menghilang beberapa waktu lamanya, namun aliran-aliran seni beladiri lainnya tersebut tetap bersumber dari Shorinji Kempo sebagai seni beladiri yang tertua.

Profil Perkemi

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Data Kenshi

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Komunitas

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Alamat Perkemi

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Advertisement

geokuliner memetakan lidah